Careless

imagesIbuku menceritakan ini saat aku pulang ke rumah beberapa waktu lalu. Ia mengatakan bahwa dulu aku, adalah seorang yang sangat tidak peduli pada sekitar. Saking tidak pedulinya Ibuku bahkan tidak tahu apa yang benar-benar aku inginkan. Setiap pulang sekolah aku tidak pernah mengeluh atau menceritakan tentang kejadian di sekolah seperti anak-anak lainnya, seakan-akan tidak terjadi apapun, seakan-akan tidak ada satu pun yang berkesan. Padahal jika dilihat aku lumayan punya banyak teman dan tidak kesulitan dalam bergaul.

Hingga suatu hari sepulang sekolah sebelum harus masuk lagi untuk mengikuti les, aku makan di bangku depan ruang kelas ditemani Ibuku, di depan kami ada lapangan kecil yang anak-anak tengah main bola disana. Anak-anak itu main bola dengan semangat walau hari sangat panas, salah satu anak menendang bola sangat kencang dan tidak sengaja malah tepat mengarah ke wajahku yang saat itu sedang makan dengan tenangnya, aku jatuh terjungkal ke belakang karena bolanya sangat keras menghantam. Seketika itu, Ibu sangat marah, memaki-maki anak-anak itu, bahkan sampai mengejar karena mereka lari ketakutan. Orang-orang di sekitar yang menyaksikan terlihat menahan tawa karena pemandangannya walaupun menyedihkan tapi agak lucu. Sedangkan aku?

Dengan tidak pedulinya, aku hanya bangun dan meneruskan makan kembali menggunakan tangan karena sendoknya sudah terlempar entah kemana. Aku meneruskan makan dengan tenang tanpa terlihat marah, kesal, sedih sedikit pun, seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa. Padahal Ibuku masih belum selesai mengoceh karena geram.

.

.

.

Mungkin, dulu aku bukannya tidak peduli pada sekitar. Tapi aku merasa aman karena memiliki Ibu luar biasa yang akan selalu ada di sampingku dan mati-matian membelaku. Saat itu, aku tidak takut apapun karena aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Asalkan ada Ibu, aku tidak apa-apa.

Namun, seiring berjalannya waktu, terlebih saat aku harus tinggal sendiri karena sekolah di tempat yang jauh dari rumah. Aku menjadi sangat sensitif dengan apa yang terjadi di sekitar. Aku jadi mudah sedih dan menangis. Saat sesuatu tidak berjalan sesuai dengan yang seharusnya aku menjadi kacau. Satu hal yang mungkin harus aku pahami lagi dan lagi, bahwa aku tidak akan pernah sendirian, bahwa aku masih dan akan terus punya Allah. Walau Ibu tidak lagi di sampingku, walau orang-orang di sekitar menjauh, walau tidak ada lagi yang berpihak padaku, asalkan terus berusaha untuk hidup sesuai dengan yang Allah perintahkan, harusnya tidak apa-apa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s