The First

592606703-vintage-love-quotes-photographyAku memiliki teman yang sangat dekat sejak kami kecil, meskipun saat SMP dan SMA kami tidak sekelas lagi sehingga aku dan dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan yang lain. Temanku ini bisa dipastikan adalah orang pertama yang tahu dan mungkin tahu semua rahasiaku. Dia juga pernah mengatakan bahwa aku adalah teman curhat terbaiknya.

Kami nyaris tidak punya sesuatu untuk disembunyikan dan selalu tak bisa berhenti mengobrol jika sudah bertemu, membicarakan ini aku jadi sangat merindukannya.

Hal yang paling menyenangkan saat itu untuk kami bicarakan adalah, mengenai orang yang kami suka. Aku dan dia senang untuk mencari orang yang kami sukai, baik itu kakak kelas di eskul, teman seangkatan atau bahkan adik kelas. kami melakukan itu agar lebih semangat untuk berangkat sekolah, bangun pagi dan mengikuti eskul. Kami hanya ingin menyukai, tidak untuk dibalas, itulah mengapa orang lain tidak akan menganggap serius jika kami berkata menyukai seseorang.

Hingga suatu hari aku benar-benar menyukai seseorang, aku menyukainya bahkan sampai pada tahap menuliskan semua kenanganku sekecil apapun dengannya, seperti percakapan kami di telpon, media sosial, waktu saat dia tertawa, apapun itu seperti orang bodoh.

Akhirnya, di detik-detik terakhir menjelang kelulusan. Hal yang tidak terduga, orang itu menyatakan perasaannya padaku dan kami menjadi pasangan. Aku juga tahu dulu kalau pacaran itu salah, tapi saat itu juga aku punya prinsip kalau cuma satu dan selamanya ya tidak apa-apa, kalau tidak ngapa-ngapain ya tidak apa-apa. Seperti orang yang seakan tahu bagaimana hidupnya akan berakhir, aku benar-benar menyesal.

Hari demi hari berlalu, seiring berjalannya waktu kami pun menghadapi berbagai masalah, kesalahpahaman, kebimbangan dan lain-lain. Saat itu aku begitu mudah marah dan kesal, kesalahan sekecil apapun kadang membuatku begitu sedih dan marah.

Sampai suatu pagi, ketika aku tengah duduk bersama dengannya, ketika kami berdua menatap nyalang ke depan tanpa suatu hal pun untuk dibicarakan. Ia kemudian beranjak pergi dari kursinya, menghampiri teman-temannya tanpa menoleh lagi padaku. Saat itu aku sadar, bahwa hubungan kami berdua. Sudah berakhir.

Ketika melihat pelangi, bisa dipastikan semua orang menyukai dan mengatakan indah, tapi ketika mencoba mendekat dan menggapainya pelangi itu tidak lain hanyalah berupa titik-titik air yang terbias cahaya matahari. Sama halnya dengan bintang yang berkilau di malam hari, ketika mencoba mendekat tak akan ada apa-apa kecuali hanya batu. Sesuatu akan tetap indah jika berada di tempat dan jarak yang semestinya, semua akan berubah apabila melewati batas.

Kehidupan nyata berbeda dengan khayalan, berbeda dengan drama yang diputar berulang, berbeda dengan dongeng yang sudah bisa dipastikan bagaimana akhirnya. Satu-satunya hal yang sama mungkin hanyalah keinginan setiap tokoh cerita untuk mendapat kebahagiaan.

Butuh waktu untuk kami berdua akhirnya memahami, bahwa sebenarnya kami ini, sudah sama-sama jenuh.

Manusia yang hanya bisa mengira, manusia yang hanya bisa menduga dan menerka. Sebegitu lemahnya bahkan untuk mempertahankan apa yang telah dikatakan saja rasanya sangat sulit. Aku berusaha untuk tidak menarik kata-kataku sendiri tapi selalu berakhir seperti itu.

Aku menyerah,

Aku menyerah untuk membuat keputusan sendiri, aku menyerah untuk mengikuti apa yang orang lain lakukan tanpa dasar yang jelas, aku lelah untuk menjalani kehidupan tanpa tujuan yang hakiki. Aku menyerah untuk menggantungkan harapanku pada seseorang.

Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain DIA. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepadanya. (Imam Syafiโ€™i)

Suatu cambukan yang saat ini ku syukuri, aku akhirnya memahami bahwa sang pembuat keputusan hanyalah Allah. Meski masih banyak yang mengatakan untuk tidak terlalu fanatik. Aku hanya ingin mengikuti apa yang diperintahkan-Nya, diputuskan-Nya dan ditetapkan-Nya. Aku sudah banyak merasa gagal karena mengikuti pendapatku atau pendapat orang lain yang tidak sejalan dengan-Nya. Aku sudah tidak punya waktu lama dan ingin melalui kehidupan dengan cara yang lebih baik.

Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku, tidak akan pernah jatuh cinta pada seseorang sebelum Allah berada di nomor pertama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s