Nosebleed

Waktu kelas 2 SD, ketika sedang melaksanakan ujian kenaikan kelas. Selesai mengerjakan soal, aku berjalan untuk ke luar sambil membawa buku yang tadi kujadikan alas untuk menulis.

Entah kenapa tiba-tiba hidungku terasa gatal, kemudian aku bersin dengan sangat keras. Beberapa anak memandangku dengan ekspresi tidak biasa dan aku sangat terkejut mendapati buku yang ku pegang telah penuh bercak darah yang keluar dari hidungku saat aku bersin tadi.

Seorang anak berteriak dan berlari memanggil Guru, aku langsung menangis karena takut sesuatu yang buruk terjadi pada hidung atau tubuhku. Saat Guru datang Ia membawa tisu dan mendudukkanku di pangkuannya. Kalau boleh jujur, sebenarnya tidak sakit sama sekali. Tapi mendapati ada banyak anak yang datang bahkan bukan anak dari kelasku berbondong-bondong hanya untuk melihat, aku jadi merasa kondisiku ini buruk. Aku menangis, tidak berhenti. Walau berulang kali Guru bilang tidak apa-apa karena ini hanya mimisan dan darahnya akan segera berhenti, tapi aku tetap menangis.

Aku menangis karena takut, bukan sakit.

Mungkin sama dengan kondisi yang terjadi ketika aku dewasa. Seringnya aku merasa khawatir, takut dan cemas kepada sesuatu yang tidak ku ketahui, kepada sesuatu yang baru akan ku hadapi, bukan sesuatu itu sendiri.

Itulah mungkin mengapa banyak orang mengatakan untuk jangan pernah lari dari masalah hanya karena takut tidak bisa menghadapinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s