Nomor 27

Saat SMP, aku lumayan aktif di pramuka dan menjadi penguji yang bertugas untuk memberi ujian dan tanda tangan sebagai tanda bahwa adik kelasku lulus. Semua anggota pramuka yang senior mendapat masing-masing satu nomor untuk diujikan. Aku saat itu mendapat nomor 28, aku menyukai tugas ini karena bisa terkenal di antara adik-adik kelasku walau terkadang jadi lumayan repot karena hampir setiap saat ada yang datang untuk minta diuji.

Saking semangatnya, aku sampai tidak sadar bahwa telah salah tempat saat memberikan tanda tangan. Ya, aku nomor 28 tapi aku memberi tanda tangan di nomor 27. Itu nomor milik temanku yang sama sekali aku tidak dekat dengannya, bicara pun aku tidak pernah. Aku benar-benar merasa dalam masalah besar saat itu, ini sudah hari ke-2, sudah banyak tanda tangan yang kuberikan karena aku adalah termasuk kakak kelas yang paling mudah saat memberikan tanda tangan. Kenapa aku bodoh sekali?

Aku lumayan sulit untuk bergaul dengan orang baru karena sedikit pendiam. Aku ingat kenangan saat SD bahwa orang yang melakukan kesalahan seringkali dimusuhi dan dijauhi. Orang yang ceroboh tidak punya teman. Aku ingat jika melihat dua orang temanku yang berseteru pasti berakhir dengan bertengkar dan menjadi musuh. Aku sangat takut saat itu, aku takut si pemilik nomor 27 marah. Sebegitu takutnya sampai minta maaf dan mengakui kesalahan pun. Aku tidak berani.

Suatu hari saat aku sedang memberi ujian. Aku melihat si pemilik nomor 27 datang dari kejauhan. Aku sangat takut dan hampir ingin berlari. Apa yang harus ku katakan? Apa dia akan marah? Apa dia akan benci padaku? Dia akan menceritakan kecerobohanku pada orang lain? Dia pasti sangat kesal sampai datang kesini? Aku terus berpikir sendiri sampai rasanya ingin menangis.

Saat sudah sampai di depanku, ia bertanya:

“Ges, kamu yang tanda tangan disini?”

“Ii, a aa.kku itu gak….”

“Ini tempat aku tanda tangan ya, kamu tanda tangannya disini oke. Tos dulu dong” ujarnya tersenyum ramah dan mengajakku melakukan highfive.

Aku saat itu sangat lega dan hampir tidak percaya bahwa masalah akan selesai semudah ini. Aku sadar, mungkin pengalaman bertemanku saat SD tidak begitu menyenangkan. Pengalamanku melihat bahwa seseorang akan sangat mudahnya marah dan bermusuhan membuatku takut untuk menghadapi orang baru. Tapi di SMP, ternyata ada banyak orang baik dan mungkin lebih banyak lagi yang aku tidak tahu karena terlalu menutup diri.

Aku senang melakukan kesalahan ini karena pada akhirnya aku bisa mengetahui bahwa si pemilik nomor 27 adalah orang yang sangat baik. Aku menghitungnya sebagai, seorang teman tak terlupakan yang ku miliki saat SMP.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s