Cerpen | “Brother…”

Alasan setiap hal mengejutkan terjadi secara tiba-tiba adalah …

Agar kau bisa menghadapinya kapanpun, dimanapun, dalam kondisi apapun.

Karena hal baik membawa pelajaran, hal buruk akan ada hikmah dibaliknya

Aku tidak akan pernah melupakan hari itu, hari dimana kedua orang tuaku meninggal, hari dimana dunia terasa begitu biru, kelabu. Sejak hari itu pula aku tidak bisa berhenti murung, tidak ke sekolah, tidak keluar rumah, tidak makan, tidak bicara. Bahkan bernapas pun terasa sulit, sesak. Seperti semua oksigen yang kuhirup akan berubah menjadi air mata. Takut, sangat takut, terlalu takut untuk memulai semua hal.

              “Hey, are you really fear to begin everything with?

Hingga akhirnya, ia datang …

Seseorang yang sudah lama sekali tidak ada di sekitar sini, datang.

              “Don’t cry my little sister…”

Kakak, ya kakak kandungku, benar-benar saudara kandung. Aku hanya menatapnya nyalang saat itu, manusia canggung dengan senyuman lebar di wajahnya. Tangannya mengelus puncak kepalaku dengan hangat.

Hangat, sangat hangat dan tenang, menjadi lebih tenang. Entah mengapa saat itu, air mataku berhenti, tidak lagi bimbang, saat itu pula aku merasa bernapas adalah hal yang tidak begitu sulit. Sejak saat itu orang-orang berkata …

Senyumku telah kembali…

Selama ini kakak tinggal di luar negri sehingga jarang sekali bertemu, Ia meyakinkan mendiang Ayah dan Ibu untuk tidak tinggal di rumah, Kakak orang yang pintar, tangguh dan sedikit keras kepala sehingga bisa bersekolah dan tinggal sendiri disana. Selamanya aku kira Ia tidak akan kembali, aku bahkan sempat lupa pernah memiliki seorang kakak. Tapi, Ia kembali hari itu.

Aku menyaksikannya berdebat dengan Paman dan Bibi, tentang keinginannya untuk merawatku di rumah lama kami, untuk membawaku pergi dan tinggal bersama dengannya. Kakak masih muda, terlalu muda sehingga tidak ada yang percaya ia bisa menjadi tulang punggung keluarga dan menjagaku seorang diri. Tapi ketangguhannya muncul. lagi-lagi keras kepala. Ia berjanji akan melakukan semuanya dengan baik.

Ia berjanji akan menjadi orang seperti itu…

Hingga paman, bibi pun luluh dan memberinya kesempatan.

Tidak buruk sebenarnya tinggal di rumah Paman dan Bibi, karena mereka sangat baik, menjagaku seperti anaknya sendiri. Namun, aku tetap rindu rumah, banyak kenangan yang tak tergantikan, banyak hal menyenangkan, menyedihkan, membingungkan yang sebentar lagi terlupakan jika terus ditinggalkan. Maka ketika kakak mengajakku untuk tinggal bersama, aku sangat lega.

Sejak itulah hariku dimulai, bersama kakak.

.

.

.

Selama ini, Kakak menepati janjinya untuk menjagaku dengan baik, Ia memilih menjadi penulis agar bisa lama berada di rumah dan memantau aktivitasku. Meski berulang kali Ia mengatakan sangat menyukai menulis. Tapi aku tahu ada hal yang Ia suka lebih dari itu. Kakak bukan tipe orang rumahan, ia menyukai bepergian. Pergi ke berbagai tempat dengan teman-temannya yang punya selera sama. Pergi untuk merasakan udara di tempat lain, air di tempat lain, tanah di tempat lain. Bahkan sekedar untuk mengabadikannya dalam foto atau meninggalkan jejak berupa ukiran nama. Namun demi aku, kakak melepas semuanya.

         “How about the school ? Is it good?”

Kakak selalu menanyakan hal itu saat aku pulang sekolah, menanyakan bagaimana tentang sekolah, seberapa menyenangkan, bagaimana aku berteman dan hal lainnya. Aku senang bercerita dan Ia adalah orang yang mendengarkan dengan baik. Aku selalu menceritakan hal yang baik meski itu tidak benar-benar terjadi.

         “School today is… perfect”

Aku tidak ingin menambah bebannya dengan bercerita bagaimana sekolah sangat menyebalkan, bagaimana aku mendapati sepatuku berada di atas atap, tas sekolah yang penuh sampah, senior yang berteriak, teman yang membicarakan di belakang. Aku tidak akan menceritakan semua hal itu pada kakak. Karena semua baik-baik saja saat Ia tersenyum dan menyambutku pulang.

Aku berusaha melakukan segala hal yang bisa meringankan bebannya, karena aku yakin kakak tidak akan pernah meminta jika aku tidak inisiatif. Hal kecil yang mungkin berguna, seperti memasak dan melakukan pekerjaan rumah, agar kami tidak harus menghabiskan uang untuk membeli makanan yang sudah jadi atau membayar pembantu.

              “Let’s go to somewhere!”

Kakak menyukai untuk mengajakku pergi ke suatu tempat di akhir pekan, ke tempat yang damai dan indah, kakak bilang Ia butuh banyak oksigen untuk menyambut rutinitas di minggu berikutnya.

All I knew this morning when I woke
Is I know something now, know something now
I didn’t before

Kakak bilang Ia akan membawa perempuan yang Ia nikahi nanti ketempat-tempat yang indah. Jadi sekarang, Ia sedang mencari tempat yang cocok dan meminta pendapatku.

Aku sangat menyukai bagaimana kakakku tersenyum, bagaimana Ia melakukan hal bodoh yang membuatku tertawa, bagaimana Ia merajuk agar aku berhenti murung atau marah. Aku sangat menyayangi kakakku dan ingin terus berada di sampingnya. Karena bersamanya aku yakin, semua akan baik-baik saja.

And all I’ve seen since eighteen hours ago is green eyes and freckles
And your smile in the back of my mind making me feel like

I just want to know you better…

.

.

.

Alasan setiap hal mengejutkan terjadi secara tiba-tiba adalah …

Agar kau bisa menghadapinya kapanpun, dimanapun, dalam kondisi apapun.

Karena hal baik membawa pelajaran, hal buruk akan ada hikmah dibaliknya

Aku tidak akan melupakan hari ini, hari dimana Kakak mengatakan akan menikahi seorang perempuan impiannya, hari dimana Ia mengajakku serta Paman dan Bibi untuk menemuinya, hari dimana semua hal terasa begitu tak bisa dijelaskan.

              “How do you think about her? Do you like her?”

Aku melihat sosok perempuan di hadapanku dengan seksama, Ia tersenyum tipis dan sedikit membungkukkan kepalanya. Khimarnya jatuh lebar hampir menutupi tangan, berwarna lembayung dengan corak bunga di sekelilingnya. Wajah yang bersih tersinari kecantikan alami tanpa make up atau sesuatu yang mahal. Seorang muslimah yang keberadaannya membuatku seperti, tidak berarti.

Elvira, bahkan namanya begitu cantik.

              “She is, perfect”

Pernikahan kakakku diselenggarakan dengan cepat, satu minggu kemudian, bertepatan dengan jadwal ujian akhir, ya tanpa terasa aku akan segera menyudahi masa SMA dan segera menjejaki bangku kuliah yang kata orang-orang penuh dengan kejutan. Meski aku sudah sangat puas dengan hal yang disebut kejutan.

Kejutan itu, entah mengapa rasanya, menakutkan.

.

.

.

Musim kemarau di tahun ini tiba, sedikit gersang dan terasa panas. Aku selalu menyempatkan diri melihat bunga berwarna jingga yang bermekaran di sana-sini. Bunga yang mekar saat yang lain tidak. Bunga yang istimewa. Bagaimana pun bunga itu sangat berbeda denganku.

Lesu. Aku tidak begitu semangat untuk menuju rumah. Tidak, lebih tepatnya untuk melakukan apapun. Mungkin terlalu lelah dengan serentetan ujian yang harus dijalani. Ya, walaupun telah dinyatakan lulus dari SMA tapi kami tetap harus berusaha untuk ujian tertulis agar bisa di terima di Universitas favorit yang diinginkan. Atau mungkin, alasanku murung adalah karena hal lain yang tidak kusadari.

Kakak dan Elvira mencoba untuk menyemangatiku setiap waktu. Aku bahkan tidak lagi memasak dan melakukan pekerjaan rumah, semua dialihtangankan pada Elvira, katanya agar aku bisa fokus belajar. Tapi aku hanya merasa, jadi semakin tidak berarti, aku mungkin satu-satunya orang yang tidak mengerti harus bersikap bagaimana. Aku selalu merasa, sesuatu akan menghilang dan pergi sedikit-demi sedikit.

All I know is a simple name,
Everything has changed…

              “Kamu mau kemana?” tanya Elvira ketika mendapatiku tengah membereskan barang-barang ke dalam koper.

              “Aku ada les tambahan untuk persiapan ujian masuk universitas, akan banyak hal tak terduga juga. Jadi aku akan tinggal sementara di rumah temanku untuk belajar bersama, yang lain juga melakukan hal yang sama. Aku tidak bisa belajar disini, belajar sendirian membuatku mengantuk. Tolong bilang pada Kakak. Aku pergi dulu”

Elvira memandang murung ke arahku, seperti bingung untuk mengatakan tetap tinggal atau membiarkan pergi. Aku sangat sayang kakak, aku senang ia bisa mendapat pasangan hidup yang baik seperti Elvira. Tapi, aku mungkin belum siap ketika harus menerima orang baru di sekitar. Mungkin aku masih takut untuk memulai suatu hal yang baru.

Aku sebenarnya takut,

ditinggal sendiri lagi.

.

.

.

Menjadi senior tidak sepenuhnya melelahkan, aku menikmatinya untuk berjuang bersama teman-temanku. Kami menjadi begitu akrab lebih daripada sebelumnya. Meski terkadang aku sering mengingat Kakak, ya, sudah tiga hari aku memang tidak pulang ke rumah, tidak bertemu Kakak. Mungkin aku sedikit rindu karena selama ini selalu bersama, ini wajar.

              “Apa ada yang salah?” seorang teman yang kutumpangi rumahnya bertanya tiba-tiba membuatku sedikit terperanjat karena sedari tadi tidak sadar.

              “Aku merasa kamu ada sesuatu yang disembunyikan, tidak seperti biasa. Apa ada sesuatu yang terjadi?” tanyanya kembali sambil menatapku lekat.

              “Tidak, tidak ada” jawabku singkat, karena aku juga memang tidak tahu. Kenapa dan harus bagaimana.

              “Apa ini semua karena kakakmu yang me..”

              “Bukan! Bukan! Bukan itu” aku menyela perkataan temanku yang jelas arahnya akan kemana, aku berharap Ia tidak bertanya lagi karena mataku mulai terasa panas sekarang, seperti butiran air mata akan segera mengalir jika tidak ku tahan. Rasanya sesak, sesak sekali.

                     “Kakakmu itu,

              “KUBILANG BUKAN!” tanpa sadar aku berteriak pada temanku, Ia sedikit terperanjat, menghentikan langkahnya dan memegang pundakku yang sekarang mulai bergetar, “Aku kan sudah bilang bukan!” aku mulai terisak dan menangis di jalanan kecil itu. “Kenapa kamu terus bertanya padahal sudah kubilang bukan, huhu” Terisak seperti anak kecil yang kehilangan permen, balon atau mainan. Terisak di jalanan sepi seperti orang bodoh. Terisak dan membuat temanku, menjadi sangat panik.

              “Hey, hey, sudah jangan menangis! Kamu jelek kalau tidak menangis, kalau menangis jadi sangat jelek loh” rajuk temanku sembari terus mencoba menghibur “Maaf, tapi aku cuma mau bilang kalau Kakakmu itu. Kemarin aku mendengar cerita bahwa Ia juga sepertimu, jadi pemurung, tidak makan, tidak bicara dan hanya berkutat pada meja kerjanya. Aku rasa kamu harus segera pulang, mungkin Ia rindu padamu, itu baik untuk kalian berdua, kamu juga rindu padanya kan?”

Benarkah, kakak jadi seperti itu? Jika dipikir lagi aku memang kejam padanya, pergi begitu saja dan bahkan selama ini belum mengucapkan selamat sedikitpun atas pernikahannya. Aku semacam adik yang gagal. Aku terisak lagi, lebih keras, kali ini karena merasa bersalah, karena bingung harus bagaimana, karena merasa begitu bersalah.

So you’re crying on the way back to me

When I look at you, I hope

On a clear day you will come back to me

Just like when you left me

              “Sorry, can I borrow my little sister for a bit?”

Hingga akhirnya, Ia datang …

Seseorang yang akhir-akhir ini tidak kutemui, datang.

              “Brother, why are you here?” Aku menghapus bekas airmata yang tersisa. Tidak mau Kakak melihatku dalam situasi yang menyedihkan. Karena sekali lagi kukatakan bahwa, aku tidak ingin menambah bebannya. Meski semua yang aku lakukan sepertinya, selalu menjadi beban untuknya.

              “Too see you of course” jawab kakak singkat sambil lagi lagi memamerkan senyuman lebar miliknya. Ia melangkah pergi dan memberi isyarat untuk aku segera mengikutinya.

Aku pamit pada temanku dan mengikuti kakak. Sepanjang jalan aku lebih banyak diam dan hanya menunduk, Kakak memulai pembicaraan dengan cara seperti biasa, menanyakan bagaimana sekolahku, ujianku dan teman-temanku. Meski kadang bosan mendengarnya bertanya, tapi jujur hari ini, aku tidak keberatan menjawab.

              “Brother..”

              “Ya…”

              “Why did you suddenly decide to get married? You are still twenty-two” setelah beberapa saat akhirnya aku beranikan untuk bertanya, perihal mengapa ia memutuskan untuk segera menikah.

Kakak menghentikan langkahnya dan menatapku lekat “Karena dalam Islam ketika kau sudah siap untuk menikah maka menikahlah, and you know, I realized that I want to stay with her for the rest of my life” ujarnya sambil mengelus puncak kepalaku “Dan sebenarnya karena kamu” ujarnya lagi.

              “Karena aku? Apa hubungannya aku dengan kakak yang menikah” tanyaku tidak mengerti

              “Karena Kakak terlalu sibuk sehingga tidak bisa ada banyak waktu untukmu, sekolah tidak selalu menyenangkan bukan? Kamu pasti punya masalah yang tidak bisa diceritakan. Kamu juga pasti kesepian. Jadi kehadiran Elvira kakak pikir bisa membantumu menjadi jauh lebih baik. Kamu bisa belajar banyak hal padanya, belajar untuk menjadi dewasa. Kakak juga banyak belajar. Kemarin Elvira bilang, ketika kamu kehilangan orang yang kamu sayang. Allah yang menciptakan orang itu, tidak akan pernah hilang” Ujar kakak sembari memamerkan senyuman hangatnya. Senyuman hangat yang seperti menampar, pipiku yang beku.

Egois, aku mencap diriku egois. Kakak selalu memikirkan kebaikan untukku. Tapi aku, hanya memikirkan diriku sendiri. Brother complex teman-teman selalu membullyku seperti itu. Aku selalu tidak terima dan balik menyerang mereka. Padahal jika dipikir-pikir semuanya benar. Aku yang selalu bergantung pada kakak. Walau  sudah dinyatakan lulus dari SMA tapi sama sekali, belum dewasa.

              “Tempat yang indah untuk Elvira, aaarghhh~ kakak belum menemukannya hingga hari ini” keluhnya tiba-tiba.

              “Hah? Kenapa tidak bawa ke danau tempat yang kita datangi pekan lalu saja, itu sangat indah. Aku suka

              “Tidak bisa

              “Why?”

              “Karena tempat itu untuk adikku saja, deh hehe” Jawabnya singkat sembari terkekeh kecil. Jawaban singkat yang membuatku sedikit merasa lebih baik.

              “Berharap kamu segera menemukan tempat indah yang lain untuknya”

              “Ya, I’ll try too”

              “Jangan membuat Elvira sedih atau aku akan menghukummu”

              “Ahahaha” kami tertawa bersama, dan meneruskan perjalanan pulang.

Kakak, maafkan aku.

Maaf,

aku minta maaf,

benar-benar minta maaf,

Maaf,

sekali lagi…

Kami melangkah pulang menuju ke rumah, padahal aku belum bilang setuju akan pulang sekarang. Tapi tanpa bicara pun aku rasa, kakak mengerti.

Aku sadar bahwa selama ini sudah salah melangkah. Aku terlalu takut untuk menerima kenyataan bahwa kakak telah menemukan pasangan hidupnya, terlalu takut kelak akan ditinggal sendiri lagi. Sendiri, seperti sebelum kakak datang. Sendiri, seperti saat kedua orang tuaku meninggal. Padahal Allah akan selalu ada. Allah tidak akan membiarkan hambanya seorang diri. Aku perlu belajar itu, lebih jauh lagi. Di perjalanan hidupku untuk menjadi lebih dewasa.

Aku,

tidak akan,

takut lagi.

I will show you my smile,
swallowing all the sadness from the scars.
I’m not hurt anymore,

because, if all you’ve just Allah
Then you’ve all you need

-The end-

Advertisements

One thought on “Cerpen | “Brother…”

  1. Riri says:

    aku suka karya Kakak, sopan dan islami. Kakak nulis di website penulis cilik dong, untuk menyemangati anak-anak yang sedang galau di sana….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s