Bencana Kabut Asap: Bukan Sekedar Bagaimana Mematikan Asap

Sampai hari ini, masyarakat masih dihantui oleh bencana kabut asap yang menyelimuti sebagian wilayah Indonesia bahkan hingga ke negara tetangga. Setidaknya sejak tahun 1967 bencana kabut asap yang diakibatkan oleh kebakaran puluhan ribu hektar lahan dan hutan terjadi. Saat ini, di tahun 2015 bencana kabut asap terhitung mencakup wilayah yang paling luas, meliputi wilayah di 12 provinsi dengan luas jutaan kilometer persegi. Menurut Dr. Robert Field, seorang ilmuwan Goddart Institute for Space Studies NASA, menyatakan bahwa bencana kabut asap akibat pembakaran lahan dan hutan di Indonesia sudah mencapai krisis polusi udara terburuk sepanjang sejarah.

Kabut asap RiauKabut Asap Riau. source image: http://blog.act.id/ini-3-hal-tentang-riau-provinsi-langganan-bencana-kabut-asap/

Bencana asap di Indonesia setidaknya telah beberapa kali melanda dan menyebabkan kerugian serta kematian. Para peneliti telah mengkaji dan berkesimpulan bahwasannya ulah tangan manusialah penyebab utama dari bencana asap ini. Pasalnya, dalam upaya pembukaan lahan oknum-oknum yang tak bertanggung jawab kerap menggunakan api sebagai alat utama karena dipandang mudah, murah dan cepat. Dari sini, setidaknya diperoleh kesimpulan bahwa masalah bencana asap merupakan persoalan yang bersifat sistemik yang melibatkan banyak pihak. Bisa jadi ketika bencana ini telah teratasi, oknum swasta masih memiliki kebebasan untuk menguasai hutan dan membuka lahan. Adapun regulasi yang diatur oleh pemerintah juga terlihat minim pengawasan. Jelas diperlukan adanya regulasi serta tindakan tegas yang khusus diberlakukan oleh negara.

Hal ini berbeda dengan Islam. Dalam Islam, hutan merupakan kepemilikan umum yang keberadaannya tidak boleh diusik oleh suatu pihak tertentu. Sebab kaum muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api (HR. Abu Dawud dan Ahmad).

Sebagai harta kepemilikan umum, hutan diserahkan kepada negara untuk dikelola demi kemaslahatan umat. Negara juga wajib memperhatikan pengelolaannya agar tidak membawa dampak kerusakan ekosistem, terlebih hingga membahayakan rakyatnya. Jika memang tetap terjadi kebakaran, negara akan senantiasa bergerak cepat dalam mengatasi bencana yang terjadi. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah: seorang kepala negara akan dimintai pertanggungjawaban mengenai rakyat yang dipimpinnya (HR. Bukhari dan Muslim). Karena landasan ketaatan inilah, pemimpin akan senantiasa menyusun kebijakan, menggunakan iptek mutakhir, memberdayakan para ahli dan masyarakat agar dapat mencegah dan menanggulangi bencana yang terjadi di dalam negeri. Dengan berbagai mekanisme inilah, Islam mengatur kemaslahatan kaum muslim dalam bingkai negara.

Semua itu hanya bisa dilakukan apabila kita berada dalam sistem Islam yang menerapkan aturan Islam secara sempurna. Penerapan Islam secara sempurna hanya dapat diwujudkan dalam sistem Khilafah, yang telah terbukti kejayaannya selama 13 abad. Penerapan hukum Islam ini akan membawa kita keluar dari berbagai permasalahan atau bencana-bencana akibat ulah tangan manusia. Sesungguhnya bencana tidak akan berakhir jika kita tetap berdiam diri, terutama jika membiarkan diterapkannya sistem kufur yang bertentangan dengan Islam. Mari bergerak bersama ciptakan kehidupan yang lebih baik untuk saat ini juga generasi yang akan datang. Mari perjuangkan solusi hakiki yang membawa kemaslahatan pada umat, yakni dengan menerapkan Islam secara sempurna dalam bingkai Khilafah Islamiyyah.

Wallahualam bi ashawab

Oleh: Gesty Hamdani Haeriah
Aktivis Kajian Islam Mahasiswa
Universitas Pendidikan Indonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s