(Cerpen) In The Name of SunFlower

Baca cerita sebelumnya disini

====================================

Namun…

Sekeras apapun berusaha…

Selelah apapun menjalaninya…

Semua itu tetap tidak bisa menghentikan…

Keputusan orangtuaku untuk berpisah …

Poster In the name of Sunflower

A Shining Girl Named Eri

Tahun demi tahun berlalu, ini adalah tahun yang ketiga… ya, sudah tahun yang ketiga semenjak aku menjalani pendidikan di jenjang tertinggi.

“Setelah lulus, apa rencanamu?” tanya seorang teman yang mengiringi langkah gontaiku menuju tempat sunyi yang disebut rumah.

Eri, temanku… menanyakan hal serupa untuk yang entah keberapa. Kala itu aku pasti hanya akan melirik sebentar padanya dan berkata belum diputuskan, kemudian Eri akan mendengus kesal seperti biasa.

Jujur, aku bingung, menjadi mahasiswa yang mendekati tingkat akhir memang sedikit membuat hal-hal seperti itu mengusik. Apa yang harus dilakukan setelah kuliah? Apa langsung mengaplikasikan ilmu dengan bekerja? Kerja apa? Yang seperti apa? Atau masih haus akan ilmu sehingga melanjutkan kuliah di jenjang yang lebih tinggi? Atau kau ingin menambatkan hatimu kepada suatu takdir yang telah dituliskan di lauh mahfudz yaitu pendamping hidupmu? Setidaknya beberapa teman selalu membicarakan hal seperti itu. Termasuk Eri… dan aku adalah seorang yang selalu mempertanyakan mengapa harus memikirkannya. Ini terlalu dini.

Kembali ke pembahasan tentang temanku Eri, ia adalah teman yang baik. Setidaknya dalam penilaian pribadiku yang tidak memiliki banyak teman, aku bukan orang yang pandai bergaul dan menyapa. Maka memiliki Eri adalah salah satu yang berharga. Ia bukan orang spesial, anak konglomerat atau sesuatu yang bisa kau bilang hebat.

Ia hanya mengagumkan…

“Ayo kita melanjutkan kuliah, meneruskan belajar, ke tempat yang lebih jauh”

Bersinar seperti matahari…

Penuh mimpi…

Semenjak SMA aku dibebaskan untuk memilih jalan hidup sendiri. Apapun yang aku lakukan, tak akan ada yang memarahi atau menghalangi, tak akan ada pula yang memuji atau peduli. Aku selalu hidup dengan memenuhi tuntutan orang sekitar. Maka ketika tidak ada lagi yang menuntut. Aku bingung.

Hingga akhirnya Eri datang dan mengubah pandanganku. Gadis lugu itu punya kisah sedih yang ia pendam sendiri. Ia mendapati Ayahnya meninggal dua tahun lalu. Ibunya kemudian harus bekerja ke luar negeri agar bisa menghidupi keluarga dan membayar hutang yang ditinggalkan Ayahnya. Eri anak bungsu, ia punya seorang Kakak namun kabur dari rumah karena tidak mau menanggung kemiskinan. Eri tidak punya siapapun, sanak saudara atau kerabat karena orang tuanya menikah dengan tanpa persetujuan keluarga, atau bisa kau sebut kawin lari.

Tapi semua itu…

Tidak menghentikan langkahnya, senyumnya, mimpinya.

Aku dan Eri, kami punya pandangan yang sama tentang berbagai hal. Hampir tak penah berselisih tak pernah bertengkar. Kecuali dalam satu hal, Eri tidak suka bunga matahari, ia bilang bunga itu menyedihkan. Padahal dilihat dari segi manapun, aku tetap tidak bisa menemukan dimana letak menyedihkannya.

“Hey, setelah lulus kuliah sepertinya aku ingin… menikah saja”

“Apa?” aku sedikit terperangah, tidak pernah Eri mengatakan kata menikah sebelumnya, hal seperti itu, atau sekalipun membicarakan seseorang yang disukainya. Maka aku sedikit terkejut “Menikah dengan siapa?” tanyaku.

Eri membisikkan satu nama, nama yang aku kenal dengan baik. Tidak asing sama sekali, karena nama itu adalah temanku juga, teman satu jurusan. Aku tidak begitu dekat dengannya, kami hanya sesekali berbincang masalah tugas jika kebetulan satu kelompok, terkadang ia mengajakku berdiskusi tentang Islam. Tapi seringkali pula aku menolak ajakannya dengan alasan-alasan yang kubuat. Aku termakan isu yang beredar di teman-temanku, untuk tidak mendengarkannya, terlibat dalam omongannya atau pun aktivitasnya. Nanti kamu jadi fanatik Islam, hati-hati, itu kata mereka.

***

Shining Like a Sun

Aku, sejak saat Eri menceritakan perasaannya. Jadi selalu memerhatikan orang yang disukainya. Aku memerhatikannya, orang yang selalu sibuk mengikuti kegiatan ini dan itu bahkan di saat libur.

Aku juga memang bukan orang dengan banyak waktu luang, aku juga sedikit tidur karena tugas dan buku yang harus dibaca sebagai tuntutan kuliah begitu banyak. Tapi ia tidak hanya memikirkan kuliah, berbeda dengan yang lain, memiliki pandangan yang berbeda. Dulu aku melihatnya seperti orang aneh yang selalu mengaitkan semua persoalan dengan Islam, bahkan di mata kuliah yang tidak ada kaitannya dengan Islam pun ia bisa menarik benang merahnya. Seakan punya kacamata bertuliskan Islam yang ia gunakan setiap saat. Lama-lama di mataku, karena selalu memerhatikannya, ia menjadi orang yang membuatku ingin… mengenalnya lebih jauh…

Tidak sulit untuk mendekatinya dan dunianya, ia adalah orang yang terbuka dan menerima siapa saja. Sejak saat itu, aku selalu menerima ajakannya yang sebelumnya selalu ku tolak, ke kajian-kajian, berdiskusi, membicarakan perihal ini dan itu, semuanya tentang Islam. Tentang mengapa ia memilih jalan ini dan sebagainya. Aku bahkan sempat menginap di rumahnya. Waktu itu ketika hendak pulang, hujan turun terlalu deras. Aku tidak punya pilihan lain selain bermalam.

Tepat pukul dua pagi samar-samar aku mendengarnya terisak, aku yakin ini pukul dua karena secara teratur aku akan bangun di jam yang sama setiap hari. Orang itu tergugu, menangis sendu, dalam untaian doa dari lisan seorang yang merindu, merindukan rabbnya. Sengaja aku tak bangun dan tetap pura-pura terjaga, mencuri dengar seperti orang kurang ajar. Disana, di sela isakannya, di barisan rentetan doanya, di kesunyian dan dinginnya angin malam.

Aku mendengar… namaku disebut.

“Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama.” (HR. Muslim no. 4912)

Menjadi singa di siang hari, rahib di malam hari.

Kala itu… terbersit dalam benakku. Ia bukan orang seperti yang diisukan… bukan orang aneh seperti yang aku pikir selama ini…

Ia hanya mengagumkan… hanya orang baik yang… terasing…

Islam datang dalam keadaan terasing dan akan kembali terasing seperti sebelumnya. Tapi berbahagialah, orang-orang yang terasing itu.

Sejak saat itu, aku sadar, mataku terbuka. Aku tidak lagi berpikiran buruk tentangnya, tidak lagi termakan isu yang entah darimana asalnya. Aku menaruh percaya padanya dan kerap kali meminta saran tentang banyak hal. Aku juga bertanya, pandangannya tentang bunga matahari.

“Semua ciptaan Allah, pasti ada hikmahnya. Bunga matahari sangat indah” jawabnya singkat, terlalu singkat hingga tak memberiku kepuasan sama sekali.

“Seorang teman bilang, bunga itu menyedihkan” ujarku.

Ia terdiam beberapa saat, memandang nyalang bunga matahari yang tumbuh tepat di hadapan kami. “Mungkin temanmu ada benarnya, lihatlah, bunga matahari selalu tumbuh menghadap matahari, mengikuti pergerakan matahari. Ia bahkan lupa, akan dirinya sendiri. Bunga matahari selalu mengejar matahari, padahal sampai kapanpun tidak akan bisa menggapainya, bunga matahari dipenuhi mimpi yang terlalu semu”

Aku terhenyak, bunga matahari yang selalu mengejar matahari, terasa mirip.

Tidak punya pendirian, selalu mengikuti… Tidak punya prinsip.

Benar, bunga matahari menyedihkan.

Aku… menyedihkan.

***

In The Name of Sunflower

Aku menceritakan pada Eri perihal pertemanan baikku akhir-akhir ini dengan orang yang disukainya. Aku juga mengatakan padanya untuk melakukan apa-apa yang Islam perintahkan, setidaknya beberapa hal yang belum lama ku tahu. Termasuk bagaimana perempuan dan laki-laki harus menjaga jaraknya, harus membuat sebuah benteng yang disebut hijab, Karena pada dasarnya kehidupan mereka terpisah. Aku menjelaskan perlahan dengan penjelasan semudah mungkin agar Eri tidak salah paham.    Saat itu, Eri hanya diam, tertunduk tanpa sepatah kata pun. Padahal biasanya, ia akan berbicara jauh lebih banyak daripada aku.

Aku terdiam beberapa saat, bingung harus mengatakan apa “Aku mengerti mengapa bunga matahari menyedihkan, tidak akan jadi bunga matahari yang terus menerus mengejar matahari, tidak akan jadi menyedihkan lagi”

Eri tersenyum tipis, menarik napas panjang kemudian berkata “Jadi bunga matahari tidak apa-apa, asalkan dia mengejar sesuatu yang benar. Sebagai teman, aku senang kau berubah, kau cepat sekali berubah, aku juga akan berusaha, berusaha untuk melipat jarak antara aku dan Allah. Maaf karena telah berbohong”

Eri melangkah pergi menjauh, setelah sebelumnya ia menjelaskan perihal menyukai temanku adalah kebohongan, hanya agar aku bisa mendekati temanku itu, berteman dengannya dan mengikutinya untuk mempelajari Islam, agar aku bisa berubah menjadi lebih baik seperti ini, karena ternyata Eri pun sekarang tengah memperbaiki dirinya.

Meski itu artinya aku dan Eri tidak bisa lagi seperti biasa…

Meski artinya kami harus berpisah…

Meski mungkin aku akan merasa kehilangan…

Meski begitu aku yakin, ini adalah jalan yang terbaik…

Persahabatan memang indah, tapi akan jauh lebih indah jika dibalut dengan hukum syara.

Eri terus melangkah dan tak terlihat lagi. Itu adalah kali terakhir aku berbicara dengannya karena sejak saat itu aku pun menjaga jarak dan pandangan dari yang bukan mahram. Ya, aku berusaha untuk tidak lagi berinteraksi dengan perempuan kecuali dalam hal yang diperbolehkan oleh syara, sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah. Memang sangat terlambat, tapi aku yakin. Allah tidak akan membiarkan hambanya, tidak akan meninggalkan hambanya.

“Jika seorang hamba mendekat kepadaku sejengkal, maka Aku mendekat padanya sehasta. Jika ia mendekat padaku sehasta maka aku mendekat padanya sedepa, dan jika ia datang padaku dengan melangkah. Aku mendatanginya dengan berlari” (HR Muslim)

Aku melihat bunga matahari lagi, tenang tertiup angin. Aku sadar dengan betul, selama ini selalu mengejar hal yang tak pasti, berusaha melakukan berbagai hal yang ternyata sia-sia karena niatan awalnya salah.

Selayaknya bunga matahari yang mengejar matahari. Aku adalah seseorang yang mengejar ridha Allah. Ya, umat muslim harus punya jati diri yaitu Islam. Dalam Islam petunjuk untuk kita hidup sudah ada semuanya, tinggal kita mau atau tidak menjalaninya. Menjadi bunga matahari tidaklah salah, jika ia mengejar sesuatu yang benar, bukankah bunga matahari memerlukan cahaya matahari untuk berfotosintesis? Maka umat muslim perlu menjalankan semua aturan Allah, agar selamat di dunia dan akhirat.

Sekarang, aku memiliki banyak tugas baru yang menanti untuk diselesaikan.

Sekarang, aku harus memulai semuanya dari awal dengan niatan baik dan lurus.

Sekarang, semuanya akan menjadi jauh lebih indah. Aku yakin.

Karena bunga matahari yang mengejar matahari kini hanya melihat rabb-Nya dan mengharapkan ridha-Nya.

-The End-

Advertisements

One thought on “(Cerpen) In The Name of SunFlower

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s