Konsep Dasar Dianostik Kesulitan Belajar

Setelah kemariadhd-wn membahas Pembelajaran Berbasis Bimbingan dan mengkaji model-model pembelajaran yang lebih berorientasi pengembangan individu. Kali ini kita akan mencoba membahas mengenai Konsep Dasar Diagnostik Kesulitan Belajar, karena seperti yang kita pahami bahwa dalam proses pembelajaran, seringkali siswa mendapatkan kesulitan yang bisa jadi menghambatnya untuk menyerap materi pelajaran yang diberikan. Maka pemahaman tentang konsep dasar diagnostik kesulitan belajar ini diperlukan khususnya bagi seorang guru mata pelajaran agar dapat mengatasi kesulitan belajar yang dialami siswa.

  1. Pengertian Diagnostik dan kesulitan belajar

Diagnosis berarti kefasihan dalam membedakan penyakit yang satu dengan yang lain atau penentuan penyakit dengan menggunakan ilmu. Dilihat dari akar katanya, diagnosa atau diagnosis berasal dari kata Yunani atau Greek dia (“apart”) dan gigno skein yang berarti mengetahui. “Gnosis” berarti pengetahuan/ pengenalan/ ilmu.

(Busono, 1988: 1)

 

Tes diagnostik itu sendiri berguna untuk mengetahui kesulitan belajar yang dihadapi siswa, termasuk kesalahan pemahaman konsep. Kemudian menurut Mardapi, hasil tes ini memberikan informasi tentang konsep-konsep yang belum dipahami dan yang telah dipahami. Dari hasil analisis itu maka diketahui kelemahan-kelemahan siswa dalam mempelajari pelajaran. Langkah selanjutnya adalah pemecahan kesulitan yaitu diadakannya pembelajaran remedial.

(Marsetyorini dan Murwaningtyas, 2012 : 60)

 

Sedangkan pengertian kesulitan belajar adalah suatu kejadian yang dialami siswa saat proses pembelajaran itu berlangsung. Penurunan kinerja akademik dan prestasi belajar di sekolah merupakan contoh yang dapat terlihat dari siswa yang mengalami kesulitan belajar. Selain itu juga dapat terlihat dari perilaku yang ditujukan oleh siswa. Secara garis besar, faktor-faktor penyebab timbulnya kesulitan belajar terdiri atas dua macam, yakni “faktor intern siswa dan faktor ekstern siswa”

(Syah, 2008:184).

 

Faktor intern siswa meliputi gangguan atau kekurangmampuan psiko-fisik siswa, yakni:

  • Faktor intern yang bersifat kognitif (ranah cipta), antara lain seperti rendahnya kapasitas intelektual/ intelegensi siwa;
  • Faktor intern yang bersifat afektif (ranah rasa), antara lain seperti labilnya emosi dan sikap;
  • Faktor intern yang bersifat psikomotor (ranah karsa), antara lain seperti terganggunya alat-alat indera penglihat dan pendengar (mata dan telinga).

 

Faktor ekstern siswa meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung aktivitas belajar siswa. Faktor lingkungan ini meliputi:

  • Lingkungan keluarga, contohnya: ketidakharmonisan hubungan antara ayah dengan ibu, dan rendahnya kehidupan ekonomi keluarga.
  • Lingkungan perkampungan/ masyarakat, contohnya: wilayah perkampungan kumuh (slum area), dan teman sepermainan (peer group) yang nakal.
  • Lingkungan sekolah, contohnya: kondisi dan letak gedung sekolah yang buruk seperti dekat pasar, kondisi guru dan alat-alat belajar yang berkualitas rendah.

 

Adapun ada faktor khusus yang ikut mempengaruhi kesulitan belajar siswa. Faktor khusus atau dapat dikatakan sindrom psikologis berupa learning disability (ketidakmampuan belajar). Yang menurut Reber (Syah, 2008:186), sindrom (syndrome) yang berarti satuan gejala yang muncul sebagai indikator adanya keabnormalan psikis yang menimbulkan kesulitan belajar itu terdiri atas:

  • Disleksia (dyslexia), yakni ketidakmampuan belajar membaca.
  • Disgrafia (dysgraphia), yakni ketidakmampuan belajar menulis.
  • Diskalkulia (dyscalculia), yakni ketidakmampuan belajar matematika.

(Syah, 2008:185-186)

 

  1. Langkah-langkah diagnostik kesulitan belajar

Sebelum adanya suatu pemecahan masalah kesulitan belajar, perlu diadakannya identifikasi. Upaya ini disebut dengan diagnostik. Ada banyak langkah-langkah diagnostik, salahsatunya adalah prosedur Weerner dan Senf, diantaranya:

  • Melakukan observasi kelas untuk melihat perilaku menyimpang siswa ketika mengikuti pelajaran à Dengan cara menandai siapa siswa yang diduga mengalami kesulitan.
  • Memeriksa penglihatan dan pendengaran siswa khususnya yang diduga mengalami kesulitan belajar à Berkaitan dengan mengidentifikasi secara fisik. Dimana guru juga harus peka akan hal ini. Karena pada dasarnya setiap siswa memiliki kelebihan dan kelemahan yang berbeda-beda dalam penglihatan dan pendengarannya dalam proses pembelajaran.
  • Mewawancarai orangtua atau wali siswa untuk mengetahui hal ihwal keluarga yang mungkin menimbulkan kesulitan belajar.
  • Memberikan tes diagnostik bidang kecakapan tertentu untuk mengetahui hakikat kesulitan belajar yang dialami siswa.
  • Memberikan tes kemampuan intelegensi (IQ) khususnya kepada siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar.

(Syah, 2008:187)

 

  1. Tindak lanjut kesulitan belajar

Setelah diadakannya diagnosis dalam kesulitan belajar, maka ada langkah langkah selanjutnya dalam menentukan tindakan. Dalam melakukan tindak lanjut siswa yang mengalami kesulitan belajar, dilakukan terlebih dahulu beberapa hal penting, diantaranya:

  • Analisis hasil diagnosis
  • Menentukan kecakapan bidang bermasalah
  • Menyusun program perbaikan
  • Melaksanakan program perbaikan

(Syah, 2011: 173-175)

Referensi:

Busono, Mardiati. (1988). Diagnosis dalam Pendidikan. Jakarta: Proyek Pengembangan
Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.

Marsetyorini, Angelina Dwi dan Murwaningtyas, Ch Enny. (2012). Diagnosis Kesulitan Belajar
Siswa dan Pembelajaran Remedial dalam Materi Operasi pada Pecahan Bentuk Aljabar di
kelas VIII SMPN 2 Jetis Bantul. Dalam Seminar Nasional Nasional Matematika dan Pendidikan
Matematika FPMIPA UNY
. 11 halaman .

Syah, Muhibbin. (2008). Psikologi Belajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

 

Implikasi dalam Kehidupan sebagai Guru Mata Pelajaran

Dalam proses pembeajaran, kerap kali siswa mengalami kesulitan belajar yang dapat menghambat keberlangsungan proses pembelajaran. Kesulitan yang dialami siswa bisa berasal dari berbagai faktor, baik faktor intern, ekstern maupun khusus. Sebagai seorang guru adalah kewajiban bagi kita untuk memastikan proses pembelajaran berlangsung dengan baik agar dapat mencapai tujuan pembelajaran.

Maka, diperlukan kemampuan bagi guru untuk dapat mendiagnosa atau menyelidiki kondisi siswa sehingga dapat mengetahui kesulitan apa saja yang mungkin dialami siswa yang dapat menghambat proses pembelajaran. Sehingga apabila kesulitan belajar siswa telah diketahui, guru bisa menyusun program perbaikan dan melakukannya agar kesulitan belajar siswa dapat diselesaikan dan proses pembelajaran bisa berjalan sebagaimana mestinya.

Advertisements

One thought on “Konsep Dasar Dianostik Kesulitan Belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s