Pembelajaran  Berbasis  Bimbingan

sol2Sebelumnya kita telah membahas mengenai Masalah-masalah siswa di sekolah serta pendekatan-pendekatan  umum  dalam  bimbingan  dan  konseling. Pembahasan selanjutnya adalah tentang Pembelajaran Berbasis Bimbingan, disini kita akan mengkaji model-model pembelajaran yang lebih berorientasi pengembangan individu.

Manusia sejatinya memiliki potensi dan kemampuan untuk dioptimalkan, seperti yang telah kita bahas di pembahasan sebelumnya bahwa manusia adalah makhluk yang unik, kebutuhan manusia yang satu dan yang lain jelas berbeda, bimbingan yang diperlukan pun berbeda, maka model pembelajaran yang tepat digunakan pun akan berbeda antara satu dengan yang lain.

Pembelajaran menurut KBBI (offline) adalah suatu proses, cara atau pun perbuatan yang menjadikan manusia belajar. Pembelajaran berbasis bimbingan artinya suatu usaha yang dilakukan untuk membuat peserta didik terlibat dalam proses pembelajaran.

Pembelajaran berbasis bimbingan adalah suatu pembelajaran yang berlandaskan pada prinsip-prinsip sebagai berikut:

  • Didasarkan pada needs assessment
  • Dikembangkan dalam suasana membantu (Helping relationship)
  • Empati
  • Keterbukaan
  • Kehangatan psikologis
  • Realistis
  • Bersifat memfasilitasi
  • Berorientasi pada :

– Learning to be : belajar menjadi
– Learning to learn : belajar untuk belajar
– To work : belajar untuk bekerja dan berkarir
– And to live together : belajar untuk hidup bersama
– Tujuan utama perkembangan potensi secara optimal

Berikut adalah beberapa model pembelajaran yang seringkali digunakan dalam proses belajar mengajar, model pembelajaran ini kerap kali disebut sebagai model pembelajaran berbasis bimbingan:

  1. CL (Cooperative Learning)

Model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksi konsep, menyelesaikan persoalan, atau inkuiri. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif), tiap anggota kelompok terdiri dari 4 – 5 orang, siswa heterogen (kemampuan, gender, karekter), ada control dan fasilitasi, dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi.

  1. CTL (Contextual Teaching and Learning)

Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah, terbuka, negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling), sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan, motivasi belajar muncul, dunia pikiran siswa menjadi konkret, dan suasana menjadi kondusif – nyaman dan menyenangkan. Prinsip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa, siswa melakukan dan mengalami, tidak hanya menonton dan mencatat, dan pengembangan kemampuan sosialisasi.

Ada tujuh indikator pembelajaran kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya, yaitu modeling (pemusatan perhatian, motivasi, penyampaian kompetensi-tujuan, pengarahan-petunjuk, rambu-rambu, contoh), questioning (eksplorasi, membimbing, menuntun, mengarahkan, mengembangkan, evaluasi, inkuiri, generalisasi), learning community (seluruh siswa partisipatif dalam belajar kelompok atau individual, minds-on, hands-on, mencoba, mengerjakan), inquiry (identifikasi, investigasi, hipotesis, konjektur, generalisasi, menemukan), constructivism (membangun pemahaman sendiri, mengkonstruksi konsep-aturan, analisis-sintesis), reflection (reviu, rangkuman, tindak lanjut), authentic assessment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran, penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha siswa, penilaian portofolio, penilaian seobjektif-objektifnya dari berbagai aspek dengan berbagai cara).

  1. DL (Direct Learning)

Pengetahuan yang bersifat informasi dan prosedural yang menjurus pada keterampilan dasar akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara pembelajaran langsung. Sintaknya adalah menyiapkan siswa, sajian informasi dan prosedur, latihan terbimbing, refleksi, latihan mandiri, dan evaluasi. Cara ini sering disebut dengan metode ceramah atau ekspositori (ceramah bervariasi).

  1. PBL (Problem Based Learning)

Kehidupan adalah identik dengan menghadapi masalah. Model pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah otentik dari kehidupan aktual siswa, untuk merangsang kemampuan berpikir tingkat tinggi. Kondisi yang tetap hatrus dipelihara adalah suasana kondusif, terbuka, negosiasi, demokratis, suasana nyaman dan menyenangkan agar siswa dapat berpikir optimal.

Indikator model pembelajaran ini adalah metakognitif, elaborasi (analisis), interpretasi, induksi, identifikasi, investigasi, eksplorasi, konjektur, sintesis, generalisasi, dan inkuiri.

  1. Problem Solving

Dalam hal ini masalah didefinisikan sebagai suatu persoalan yang tidak rutin, belum dikenal cara penyelesaiannya. Justru problem solving adalah mencari atau menemukan cara penyelesaian (menemukan pola, aturan, .atau algoritma). Sintaknya adalah: sajikan permasalahan yang memenuhi kriteria di atas, siswa berkelompok atau individual mengidentifikasi pola atau aturan yang disajikan, siswa mengidentifkasi, mengeksplorasi,menginvestigasi, menduga, dan akhirnya menemukan solusi.

  1. Problem Posing

Bentuk lain dari problem posing adalah problem posing, yaitu pemecahan masalah dengan melalui elaborasi, yaitu merumuskan kembali masalah menjadi bagian-bagian yang lebih simple sehingga dipahami. Sintaknya adalah: pemahaman, jalan keluar, identifikasi kekeliruan, menimalisasi tulisan-hitungan, cari alternative, menyusun soal-pertanyaan.

  1. OE (Open Ended)

Pembelajaran dengan problem (masalah) terbuka artinya pembelajaran yang menyajikan permasalahan dengan pemecahan berbagai cara (flexibility) dan solusinya juga bisa beragam (multi jawab, fluency). Pembelajaran ini melatih dan menumbuhkan orisinilitas ide, kreativitas, kognitif tinggi, kritis, komunikasi-interaksi, sharing, keterbukaan, dan sosialisasi. Siswa dituntut untuk berimprovisasi mengembangkan metode, cara, atau pendekatan yang bervariasi dalam memperoleh jawaban, jawaban siswa beragam. Selanjutnya siswa juga diminta untuk menjelaskan proses mencapai jawaban tersebut. Dengan demikian model pembelajaran ini lebih mementingkan proses daripada produk yang akan membentuk pola pikir, keterpasuan, keterbukaan, dan ragam berpikir.

Sajian masalah haruslah kontekstual kaya makna secara matematik (gunakan gambar, diagram, table), kembangkan permasalahan sesuai dengan kemampuan berpikir siswa, kaitkan dengan materi selanjutnya, siapkan rencana bimibingan (sedikit demi sedikit dilepas mandiri).

  1. Probing-prompting

Teknik probing-prompting adalah pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian pertanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan pengetahuan setiap siswa dan pengalamannya dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari. Selanjutnya siswa mengkonstruksi konsep-prinsip-aturan menjadi pengetahuan baru, dengan demikian pengetahuan baru tidak diberitahukan.

Dengan model pembelajaran ini proses tanya jawab dilakukan dengan menunjuk siswa secara acak sehingga setiap siswa mau tidak mau harus berpartisipasi aktif, siswa tidak bisa menghindar dari proses pembelajaran, setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab. Kemungkinan akan terjadi suasana tegang, namun demikian bisa dibiasakan. Untuk mengurangi kondisi tersebut, guru hendaknya serangkaian pertanyaan disertai dengan wajah ramah, suara menyejukkan, nada lembut. Ada canda, senyum, dan tertawa, sehingga suasana menjadi nyaman, menyenangkan, dan ceria. Jangan lupa, bahwa jawaban siswa yang salah harus dihargai karena salah adalah cirinya dia sedang belajar, ia telah berpartisipasi.

Referensi:
Nurihsan, A. J.(2006). Bimbingan dan Konseling dalam Berbagai Latar Kehidupan. Bandung:      PT Refika Aditama

 Implikasi dalam Kehidupan sebagai Guru Mata Pelajaran

Bermula dari manusia adalah sebagai individu yang unik maka seorang guru dalam melaksanakan proses pembelajaran harus memahami situasi dan kondisi peserta didik. Hal ini diperlukan agar proses pembelajaran bisa berlangsung dengan baik karena guru paham bagaimana harus menyampaikan materi.

Dari semua model pembelajaran yang ada, memang tidak bisa kita memutuskan satu model yang pasti akan diterapkan dengan baik, tapi perlu pembacaan situasi yang bagus dari seorang guru agar model pembelajaran yang ia pilih adalah sesuai dengan kondisi yang diperlukan. Pemilihan model pembelajaran ini juga sangat penting mengingat tuntutan bagi peserta didik yaitu harus mencapai tujuan pendidikan yang ada. Selain itu, jika seorang guru telah dapat menentukan model pembelajaran yang cocok untuk digunakan, maka ini akan mempermudah guru dalam melaksanakan tugasnya yaitu mengajar dan mendidik siswa agar menjadi manusia yang jauh lebih baik.

Advertisements

One thought on “Pembelajaran  Berbasis  Bimbingan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s