Antara Mahasiswa,  Intelektual, dan Tabayun

Poster l Antara mahasiswa, intelektual dan tabayun copyWritten By: Gesti Hamdani Haeriah

Kata ‘mahasiswa’ memang seringkali disandingkan dengan kata ‘intelektual’. Yup! Mahasiswa memang termasuk kalangan intelektual. Gunarsa (1991) berpendapat bahwa   intelektual merupakan suatu kumpulan kemampuan sesorang untuk meperoleh ilmu pengetahuan dan mengamalkannya dalam hubungan dengan lingkungan dan masalah-masalah yang timbul.

Nah, dari pengertian di atas maka jelaslah seorang mahasiswa memang sejatinya sebagai kaum terdidik yang memiliki kemampuan dalam menyelesaikan masalah-masalah, baik masalah dirinya, orang lain, maupun lingkungan. Maka, supaya mahasiswa dapat menggunakan potensinya pada koridor yang benar, tentu harus memiliki standar yang benar ketika menyelesaikan permasalahan. Apalagi kalau bukan Islam yang merupakan standar sekaligus jalan untuk menuntun setiap perbuatan.

Globalisasi dan modernisasi yang ditandai dengan kemudahan akses informasi dan kebebasan  pertukaran budaya sampai gaya hidup. Membuat masyarakat Indonesia tak terkecuali kalangan intelektual cenderung mengikuti kebudayaan barat yang dianggapnya keren dan menyenangkan. Mereka terbuai gaya hidup bebas dan sekuler yang digemborkan barat. Sehingga wajar budaya hedonis, individualis, materialistis begitu melekat kuat pada diri mahasiswa. Selain itu, kebiasaan buruk mahasiswa lainnya yaitu, mudah terhasut karena menelan bulat-bulat informasi yang ada tanpa melakukan tabayun terlebih dahulu.

Tabayun? Wah, kata baru lagi nih. Apa sih itu? tabayun sendiri artinya mencari kejelasan terhadap suatu masalah yang belum pasti atau dengan kata lain melakukan konfirmasi terhadap suatu permasalahan sebelum menduga-duga atau suudzan. Seorang intelektual muslim di dalam Islam memang tidak diperkenankan untuk berprasangka/menduga-duga karena hal tersebut akan berdampak buruk bagi dirinya dan oranglain. Misalnya: kegelisahan bagi diri sendiri dan timbul fitnah bagi oranglain. Sebagaimana, sabda Rasulullah Saw:

“Jauhilah oleh kamu sekalian prasangka, sebab prasangka itu adalah sedusta-dustanya pembicaraan.” (HR. Bukhori – Muslim)

So, penting bagi mahasiswa untuk melakukan proses tabayun agar tidak tersesat dengan informasi yang tidak benar, salah – salah kita bisa menyakiti orang lain, atau timbul perselisihan bahkan pertumpahan darah karena kesalahpemahan.

Oke, sudah jelaskan perihal pentingnya tabayun. Mahasiswa dengan segala potensinya tentu harus bisa berpikir lebih mendalam terhadap informasi yang diterima. Sehingga, setiap keputusan yang diambil memiliki landasan yang kuat dan sahih yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dalam mengetahui landasan yang benar yaitu dari Al-Qur’an dan As-Sunnah hanya dapat dicapai dengan cara mengkaji Islam secara intensif dan komprehensif (menyeluruh).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s