(Cerpen) When The Leaves Are Falling

Poster When the leaves are falling copy

Written By: Gesti Hamdani Haeriah

Dapatkah kau lihat helai perhelai daun yang jatuh perlahan dengan ringan dari kediamannya? Daun-daun itu pastilah jatuh karena mereka tidak lagi hijau, tidak lagi muda, tidak lagi segar. Daun-daun malang telah mengering dan tua, melewati waktu panjang dan beragam kenangan pahit juga manis. Hingga mereka tak lagi mampu mempertahankan intensitasnya. Daun yang rapuh itu lambat laun, akan segera jatuh dan tergeletak di tanah begitu saja. Keberadaannya pun akan segera tergantikan… Ibarat takdir, yang terus berputar. ***

“Kenapa Abi? Kenapa kita mengunjungi tempat ini?”

Tanya seorang gadis kecil yang tengah duduk di samping Ayahnya sembari mengayunkan kaki demi mengusir rasa bosan. Kedua mata bulatnya berputar, mencari sekeliling siapa tahu ada hal menyenangkan yang bisa Ia lihat, Ia temui dan Ia rasakan. Namun hampa, mata bulatnya tak menemukan apa pun disana, di sekitarnya, hanya terdapat hamparan tanah kosong dengan rumput liar dan beberapa benda yang mungkin bisa dibilang sampah.

Salah satu hal aneh dari sekian keanehan yang ada hanyalah, tempat tak terpakai ini mengapa dibiarkan begitu saja? “Bukankah lebih baik untuk membuat hal yang menarik disana?” batinnya.

“Ini adalah tempat yang berarti” jawab laki-laki paruh baya itu sembari mengelus puncak kepala anaknya dengan penuh rasa sayang “Setidaknya ada pelajaran berharga disini, yang pernah terjadi” senyuman tipis mengembang di wajahnya, matanya memandang nyalang pada objek di hadapannya, seakan memang ada sesuatu hal disana. Mungkin menyenangkan, menyedihkan, atau bahkan keduanya. Lelaki paruh baya itu mencoba membangkitkan memori lamanya, di tempat yang sama mungkin akan banyak perasaan yang bisa diingatnya. Ia sesungguhnya takut, kenangan miliknya akan terhapus waktu jika tidak pernah diungkit kembali. Karena kala itu, memang ada sesuatu yang terjadi. Kala itu, bukan hanya hamparan kosong yang berantakan seperti sekarang…

Kala itu …

***

Seorang anak dengan piyama biru bersandar dengan mushaf ditangannya, mulut kecilnya mengalun lembut membacakan ayat-ayat Al-Quran. Pagi yang cerah, cuaca yang masih bersih dan langit yang masih biru bersama gemerisik daun yang bergesek karena tiupan angin kering. Anak kecil dengan piyama biru menaruh mushaf dan mengalihkan pandangannya jauh keluar jendela. Pada anak-anak seumurannya yang tengah bermain dan tertawa.

“Rei, oper bolanya kemari!”

Anak laki-laki yang disapa Rei itu bersemangat menggiring bola di kakinya.Hamparan rumput tempatnya bermain tidak begitu besar, tidak terlalu hijau dan tidak rata. Walau begitu ia tetap berlari, tertawa dan berusaha, meski peluh membasahi wajah dan pakaiannya, meski dengan napas terengah-engah, meski matahari tengah menyengat di ubun-ubunnya.

*Brughh

Seorang anak dengan tubuh paling besar di antara yang lain nampak kelelahan melangkah gontai ketepi dan merebahkan tubuh. Ia melepaskan topinya untuk kemudian dikibas-kibaskan demi melawan panas “Aku sudah, aku lelaaaah” rengeknya.

“Yaaah, padahal tinggal sedikit lagi” sungut yang lain “Kalau sudah bulan ramadhan, kita tidak bisa main bola siang hari lagi, nanti lemes, haus” Anak dengan piyama biru yang sedari tadi memerhatikan dalam diam terkekeh kecil mendengarnya

“Ternyata masih ada yang takut bertemu ramadhan karena tidak bisa bermain lagi” ringisnya “Tapi setidaknya menyenangkan, kau bisa menghabiskan waktumu… bersama teman” anak dengan piyama biru tersenyum tipis kemudian melanjutkan tilawahnya yang sempat terhenti.

Tanpa ia sadari, salah seorang anak yang tengah bermain bola sesaat lalu berhenti memainkan bolanya dan berganti menatap fokus padanya, pada anak dengan piyama biru di balik jendela. Seakan ada hal menarik disana.

“Rei, lihat apa?”

“Eeh, tidak. Aku hanya…”

“Oh, anak yang sakit itu ya. Kasihan dia bahkan tidak pernah keluar dari rumahnya, pasti membosankan”

“Namanya Ali” tegas Rei

“Woo, kau  mengenalnya?”

“Ya, mungkin, hanya sedikit”

Rei memang mengenal Ali belum lama. Berawal dari insiden bola yang tidak disengaja terlempar masuk ke halaman rumah anak itu karena Rei terlalu bersemangat menendang. Saat hendak mengambilnya ternyata Ali sudah menunggu di depan gerbang rumah dengan bola di tangan. Ia ingin mengembalikannya pada Rei secara langsung tapi sudah janji pada Uminya untuk tidak keluar rumah.

Rei melihat Ali adalah sangat baik, tapi sepi. Bagaimanapun yang dilakukannya setiap hari hanyalah berkutat di tempat yang sama, mungkin seperti ikan dalam aquarium, sangat terbatas. Sehebat apapun kemampuan berenangnya, ikan dalam aquarium hanya akan mendapati pantulan dirinya pada kaca.

***

Entah apa yang membuat Rei begitu tertarik, namun sejak saat itu Rei jadi sering mengunjungi Ali. Walau yang dilakukan kedua anak itu hanyalah saling berbincang, Rei bingung permainan apa yang bisa dilakukan dengan orang sakit.

“Rei, bolehkah aku menjadi temanmu?” Tanya Ali dengan suara hampir tertelan.

Ali… seorang anak yang suaranya berat, seorang anak yang tinggi badannya tidak sesuai dengan umurnya, seorang anak yang tatapannya kosong, seorang anak yang kakinya bahkan gemetar ketika berdiri, seorang anak yang senyumannya… begitu tulus.

Jauh di dalam hatinya, Rei bertekad untuk menjadi teman sekaligus pelindung bagi Ali. Rei sangat ingin melakukan sesuatu yang berguna untuk Ali, diusia yang masih belia Rei seakan telah mengerti apa itu nilai kemanusiaan.

“Kau, tanpa meminta pun. Kita adalah teman” ujar Rei parau.

Friend isn’t something you look for and find…

***

“Rei, Ramadhan 20 hari lagi”

“Ya, sebentar lagi” Rei tersenyum.

Ali memang selalu seperti itu, setiap hari menghitung berapa lama waktunya untuk sampai pada bulan Ramadhan. Rei tidak begitu peduli tentang bulan yang Ia belum terlalu paham seluk beluknya, tapi melihat teman baiknya begitu antusias menunggu, Ia jadi ikut menunggu juga.

Berharap Ali dan dirinya bisa menemui bulan Ramadhan. Bulan yang katanya adalah bulan terbaik. Bulan yang katanya penuh rahmat. Bulan yang semoga bisa membuat Ali bahagia.

When the month of Ramadhan starts, the gates of the Heaven are opened and the gates of Hell are closed and the devils are chained…

Ali adalah berbeda di mata Rei, meski umurnya sebaya tapi Ali istimewa. Ia sudah hapal Al-Qur’an bahkan ketika umurnya masih genap empat tahun, ia memiliki pengetahuan yang luas tentang Islam maupun umum dan yang paling penting adalah kerendahan hatinya. Ali hanya bilang bahwa ia menghabiskan waktu untuk membaca dan belajar bersama dengan Umi karena tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Namun, tetap saja Rei kagum padanya.

Saat anak-anak di Kindergarten menggambar bunga atau tokoh kartun yang disukainya. Ali sudah berpikir untuk menggambar rancangan strategi kaum muslim dalam berjihad melawan kafir harbi. Ali punya banyak cerita dan perasaan menyenangkan untuk disampaikan. Pengalamannya bahkan melebihi orang yang pernah pergi ke seluruh dunia. Ali bisa menjelaskan semuanya, peradaban, kehidupan bahkan ketika ruang lingkup untuknya sendiri sangatlah terbatas.

Perlahan, karena terus berinteraksi…

Rei pun ingin bisa… Seperti Ali.

“Ali, ayo kita menanti ramadhan bersama dan kalau boleh, aku ingin mempelajari Islam lebih dalam, aku juga ingin bisa lancar membaca Al-Quran sepertimu. Aku ingin kau mengajariku, bolehkah?”

Ali tersenyum mengangguk, sekarang matanya tak lagi kosong, tatapannya tak lagi semu. Matanya terlihat sangat jernih “Rei juga harus mengajariku bermain bola” timpal Ali sambil tertawa memamerkan deretan giginya yang tersusun rapi.

Maybe the people who live around you, will suddenly become your true friend…

Ali menepati janji, mengajarkan Rei membaca Al-Quran dan ilmu-ilmu tentang Islam. Rei pun mengajarkan Ali bermain bola, tentu bukan bola sungguhan yang menguras tenaga. Melainkan bola tangkap yang tidak begitu rumit, namun Ali sangat menikmatinya, Ia bahagia ketika bisa menangkap dan melempar bola setidaknya bersama seorang teman, semua hal menjadi terasa lebih menyenangkan.

***

Bukankah daun yang itu sudah terlalu kering, tapi mengapa ia tak jua jatuh. Sekarang lihatlah, perlahan daun lain yang masih hijau dan segar terbang melayang dengan tenang hingga mereka terjatuh ke tanah. Masih terlalu muda dan hijau, tapi mengapa sudah jatuh?

Hari demi hari, jika dinantikan terasa lama…

Hari demi hari, akan selalu ada hal baru yang terjadi…

Baik disadari ataupun tidak…

Hari demi hari…

begitu berharga…

“Ali…  kau terlihat sangat putih”

Ali menoleh sekilas pada Rei dan tersenyum simpul. “Rei, Ramadhan besok” ujarnya tanpa memerdulikan kecemasan sahabatnya.

“Ali… kubilang kau sangat putih”

“Bicara apa, aku memang putih”

“Tidak, tapi ini sangat putih dan… pucat” Rei khawatir, ia memeriksa suhu tubuh Ali dengan menempelkan tangan di dahinya “Ali kau tidak apa-apa?”

Ali menghela napas panjang, terlihat sangat lelah, lebih lelah daripada biasanya, Ia terlihat lebih murung meski senyuman terukir di wajahnya, meski matanya jernih ia terlihat buruk

“Aku baik, aku hanya terlalu senang. Mungkin agak sedikit sakit, tapi rasa senangnya lebih besar. Terimakasih” ujarnya dengan suara serak “aku akan tidur cepat malam ini, Rei pulang saja sebentar lagi magrib”

Rei tidak bisa pulang begitu saja, kondisi Ali yang semakin hari terlihat semakin buruk membuatnya tidak bisa tenang sama sekali. Bahkan sekarang, Ali tidak bisa berjalan dan berdiri tanpa bantuan kursi roda.

“Ali, aku menyayangimu… karena Allah”

Ali tersenyum lagi, mungkin itu adalah hal yang disukainya. Meski guratan di wajahnya mencerminkan rasa sakit yang teramat dalam, Ali tetap tersenyum untuk Rei. Bagaimanapun Ali hanyalah seorang anak, keinginannya untuk bermain dan berlari seperti yang lain pastilah sangat besar. Namun satu hal, Ali tidak pernah merutuki keadaannya.

“Aku punya banyak hal yang ingin dikatakan, diceritakan atau disampaikan kepada orang lain dan Rei terimakasih, sudah mau mendengarkanku. Ramadhan tahun depan, berjanjilah untuk menghitungnya bersamaku lagi” Rei mengangguk, tak terasa air mata mengembang dan jatuh perlahan di pipinya. Namun air mata itu segera mengering oleh angin yang berhembus.

Hari ini, entah kenapa angin terasa lebih besar, namun sejuk. Daun yang gugur memenuhi jalan pun begitu banyak. Bahkan terlalu… banyak.

***

“Lalu Abi? Apa yang terjadi kemudian dengan anak bernama Ali itu?” seorang gadis kecil dengan mata bulat menatap fokus, tak sabar menanti kelanjutan kisah flashback Ayahnya.

Sang Ayah memejamkan mata, membiarkan hembusan angin menyentuh rambutnya, hembusan angin halus yang pergi dan takkan pernah kembali lagi, hembusan angin yang berbeda “Allah sangat menyayangi anak bernama Ali, hingga keinginan besarnya untuk bertemu dengan Ramadhan, Allah yang maha penyayang menggantinya dengan yang lebih baik, yaitu bertemu rabbnya”

Meski daun-daun malang itu terinjak dan tersakiti. Setiap helai daun yang jatuh akan terurai dan menjadi berguna untuk sekitarnya. Daun itu pergi bukan karena tergantikan, melainkan mereka berkorban untuk menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat. Terkadang Allah SWT tidak mengabulkan permintaan terakhir dari hambanya karena ingin menghapuskan dosa-dosanya yang telah lalu, agar hambanya bisa menghadap dalam keadaan bersih, tanpa kotor sedikit pun. Hai Ali, Sampai saat ini pun ketika Ramadhan tiba, aku masih… Merindukanmu…  

-End-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s